Ø Perjalanan
dalam mencari naskah kuno untuk melestarikan kebudayaan nenek moyang.
Assalamu’alaikum teman-teman, di sini
saya akan membagi pengalaman saya dalam mencari naskah kuno atau takepan yang
berasal dari Lombok. Saya bersama dengan teman-teman saya pergi untuk mencari
orang yang mempunyai naskah kuno (takepan). Salah satu teman saya mengenal
seseorang yang menekuni naskah-naskah kuno di desanya yakni di desa Kuripan.
Sebelumnya saya dan teman-teman sudah mengetahui nama Mamiq Upi (orang yang
memiliki dan menekuni naskah-naskah kuno) dari teman kami dan sebelumnya kami sudah meminta tolong pada
teman kami tersebut untuk memberitahu beliau bahwa kami akan berkunjung untuk
mengetahui beberapa naskah-naskah kuno. Hari Minggu 29 Oktober kami pergi untuk
menemui Mamiq Upi dengan tujuan beliau dapat menjelaskan kami
beberapa-naskah-naskah kuno yang belum kami ketahui dan dapat kami lestarikan. Lalu
kami berangkat dari Mataram pukul 14.00. Perjalanan saya dan teman-teman menuju
desa Kuripan untuk mengetahui informasi-informasi terkait dengan naskah-naskah
kuno sangat menyenangkan, karena selama dalam perjalan kami menjumpai pemandangan
yang bagus di jalan By pass dan juga karena jalannya merupakan jalan khusus
untuk satu jalur, jadi kami tidak terlalu khawatir dengan kendaraan yang lain.
Selama diperjalanan kami menjumpai berbagai pemandangan yaitu ada pegunungan,
dan taman tempat anak-anak muda biasanya berfoto. Setelah kami sampai di Kuripan
kami baru mengetahui bahwa Mamiq Upi dapat ditemui pukul 17.00 karena beliau akan
mengikuti acara sorong serah terlebih dahulu, Jadi kami memutuskan untuk
istirahat sekaligus menunggu Mamiq Upi selesai sorong serah di rumah salah satu
teman kami yang dekat dari rumah Mamiq Upi. Selama kami menunggu di rumah teman
kami, kami menyempatkan untuk melaksanakan sholat ashar dan makan terlebih
dahulu baru kemudian kami berangkat ke
rumah Mamiq Upi. Saat dalam perjalanan ke rumah Mamiq Upi, kami bertemu dengan orang-orang
yang sedang nyongkolan di desa Kuripan. Jalanan agak sedikit macet, tetapi
tidak terlalu lama karena kendaraan yang lalu lalang diamankan oleh beberapa
warga di sana.
Sesampainya
kami di rumah Mamiq Upi, kami disambut dengan ramah oleh beliau karena beliau
sangat senang ada yang ingin menggali dan melestarikan naskah-naskah kuno.
Mamiq Upi menceritakan isi naskah puspekerme dan memperlihatkan serta
menjelaskan naskah-naskah apa saja yang beliau miliki. Mamiq Upi mulai menekuni
naskah kuno sejak 2017 dan mulai membacanya karena keturunan, mulai dari buyut,
kakek, dan orang tua beliau.
Ada beberapa takepan
yang beliau miliki yaitu:
1. Rengganis
2. Puspekerme
yakni, digunakan saat akan menanam padi.
3. Ajar
Wali (gerude pakoq), yakni takepan khusus untuk pengobatan orang bisu.
4. Markum,
yaitu digunakan khusus untuk pengajian menggali harekat, syariat dan ma’rifat.
5. Purwe
dak sirne, yakni takepan yang berisi perjalanan hidup setelah mati.
6. Joharsyah,
yakni takepan yang digunakan saat syukuran rumah.
7. Khayatnur/nabi
paras, yakni takepan yang digunakan saat cukur rambut untuk anak kecil.
8. Jati
sware, yakni takepan yang berisi tentang persiapan perjalanan diri.
Mamiq
Upi menceritakan isi dari Takepan Puspekerme yakni takepan yang meceritakan
tentang putra raja yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya sehingga
dibuatkan teman bermain yakni merak kencane dan ikan kencane. Dinamakan
Puspekerme, puspe artinya kembang, karme artinya ganjaran. Jadi kata puspekerme
menceritakan orang yang berbuat kebaikan jelas akan mendapat ganjaran yang
bagus.
Yang
dikisahkan dalam puspekerme adalah kisah datu yang bernama datu puspekerme dan
mempunyai seorang putra yang berumur 4 tahun. Saking sayangnya karena merupakan
anak satu-satunya datu membuatkan teman bermain berupa ikan emas dan merak emas
yang bisa terbang untuk sang putra, mereka mendapatkan kabar di Negara Baital Mukedas
yang mempunyai oarng yang bisa memandikan ikan menggunakan emas yang dapat
langsung hidup, dan orang yang bisa memandikan merak emas yang bisa terbang di
desa Baital Makmur.
Mamiq
Upi hanya menjelaskan sebagian isi dari takepan(naskah kuno) Puspekerme,karena
hari sudah menjelang malam, beliau menyuruh kami untuk datang kembali apabila
masih ada yang kurang lengkap/ kurang kami pahami. Pukul 18.10 kami berpamitan
untuk pulang, kami mampir terlebih dahulu di rumah salah satu teman kami untuk
melaksanakan sholat maghrib baru kemudian kami bersiap-siap untuk kembali ke
Mataram.
Oke
guys mungkin itu saja sekilas tentang perjalan saya dalam mencari naskah-naskah
kuno yang ada di daerah Lombok, yang kami temui di desa Kuripan Lombok Barat. Pelajaran
yang saya dapat dari mempelajari naskah-naskah kuno, kita dapat mengetahui apa
saja bentuk-bentuk dan isi dari beberapa naskah-naskah kuno yang sebelumya
tidak saya ketahui. Semoga bermanfaat bagi pembaca. Assalamu’alaikum wr.wb😊😊